Smart, creative, and inpirative

REVOLUSI DIGITAL BEBASIS AKHLAK

Image
REVOLUSI DIGITAL BEBASIS AKHLAK Hamdani, Pengawas Sekolah, Tambun, Kabupaten Bekasi hamdani.5hp@gmail.com Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Di era digital ini, pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas fisik, melainkan dapat dilakukan secara daring dengan memanfaatkan berbagai platform teknologi. Hal ini memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk mengakses ilmu kapan saja dan di mana saja. Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam hal moral dan etika dalam proses pembelajaran. Tidak jarang, peserta didik kurang mengindahkan nilai-nilai akhlak saat berinteraksi di lingkungan digital, seperti kurang menghormati guru dalam pembelajaran daring atau menggunakan teknologi untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan norma moral (Nasrul Hs, 2015) Rosulullah bersabda.  إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ Artinya: " Sesungguhnya aku d...

Challenges Aktualisasi Kurikulum 13 dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa.

Challenges dalam Impelementasi Kuriklum13 

Kurikulum 13 merupakan salah satu kurikulum pendidikan bangsa Indonesia sebagai pengganti atau pengembangan dari kurikulum sebelumnya. Di dalam mengimplementasi kurikulum 13, ada berapa faktor utama yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Sosialisasi K13 terhadap Guru dan Sekolah

Keberhasilan atau tidak implementasi kurikulum 13 dalam meningkatkan prestasi atau kualitas belajar siswa, maka kita jangan langsung menarik kesimpulan atau berpendapat  bahwa kurikulum 13 itu gagal. Akan tetapi, Hal ini  mungkin disebabkan  karena sosialisasi kurikulum 13 kepada guru atau sekolah kurang maksimal. Sehingga mereka belum banyak mengetahui tentang cara mengimplementasikan kurikulum 13 secara baik dan benar.

Oleh karena itu, sosialisasi kuriikulum 13 kepada guru dan sekolah  adalah sangat penting agar penerapana atau implementasi kurukulum 13 dapat berjalan dengan baik sebagaiman yang diharapkan, dan tidak terjadi gagal paham terhadap kurikulum 13. 

2. SDM Guru

Di dalam implementasi kurikulum 13 bisa mengalami kesulitan atau gagal apabilah terjdi beberapa hal, seperti kurangnya sosialisasi kurikulum 13 kepada guru sebagaimana disebutkan diatas, kurangya respon guru terhadap kurikulum 13 meskipun mereka sudah mendapatkan pelatihan, dan kurangnya kreatif dan inovatif guru dalam pembelajaran.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru kurang respon terhadap kurikulum 13 meskipun mereka sudah mendapatkan pelatihan. Pertama, guru tersebut mungkin kurang lancara dalam menggunakan atau mengoperasionalkan IT sehingga mereka mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum 13, karena kurikulum 13 tidak terlepas dari penggunaan IT. Kedua, guru tersebut memang tidak terbiasa dengan administrasi sehingga administrasi pembelajaran tidak pernah dikerjakan. dengan kata lain, guru tersebut adalah guru yang malas mengerjakan administrasi. Ketiga, guru tersebut adalah kurang kreatif dan inovatif sehingga tidak mampu menggunakan sumber belajar yang ada disekitarnya. Pada hal lingkungan disekitar juga dapat digunakan sebagai media atau sumber pembelajaran.

Guru yang kreatif, ispiratif dan inovatif biasanya dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya menggunakan atau mengandalkan media modern, tetapi  juga menggunakan media pembelajaran yang ada disekitarnya.

3. Kesediaan/Fasilitas Sekolah terhadap Implementasi K13

Implementasi kurikulum 13 tidak hanya dibebankan kepada guru saja, tetapi juga kepada sekolah. karena di dalam menerapkan kurikulum 13 memerlukan anggaran seperti membeli infokus, komputer dan android atau jaringan komputer.

Disamping itu, di dalam implementasi kurikulum 13 juga memerlukan kerja sama yang baik antara guru dengan sekolah, karena seorang guru sehebat apaun tanpa adanya dukungan sekolah atau kepala sekolah maka guru tersebut akan mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum 13. Oleh karena itu, jika bapak ibu guru ingin sukses dalam menerapkan kurikulum 13 harus menjaga hubungan atau kerjasama yang baik dengan pihak sekolah.  

Tidak semua guru mempunyai ekonomi yang kuat sehingga dapat membeli media pembelajaran yang dibutuhkan termasuk infokus. Akan tetapi, bagaimana dengan guru yang ekonominya lemah tentu mereka tidak mempunyai kemampuan financial dalam hal pengadaan fasilitas instructional aids seperti infokus, dll.

Jadi,  peranan sekolah/ kepala sekolah  sangat urgent di dalam implementasi kurikulum 13, terutama dalam pengadaaan fasilitas yang dibutuhkan guru. Disamping itu, kebijakan kepala sekolah juga sangat dibutuhkan karena tanpa adanya dukungan atau kebijakan dari kepala sekolah implementasi kurikulum 13 tidak akan berhasil sekalipun guru tersebut sudah mahir tentang kurikulum 13.








Comments

Popular posts from this blog

How to Cultivate Focus and Emotion to Our Students?

Bagaimana Peran Guru dalam Kegiatan Pembelajaran di Era Digital dan IT?

Menyulam Hubungan Hangat dan Meningkatkan Kualitas Hidup bersama Orang Lain