REVOLUSI DIGITAL BEBASIS AKHLAK
REVOLUSI DIGITAL BEBASIS AKHLAK
Hamdani, Pengawas Sekolah, Tambun,
Kabupaten Bekasi
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak" (H.R. Baihaqi).
Selain itu, globalisasi yang berkembang seiring dengan
kemajuan teknologi cenderung mengabaikan nilai-nilai moral dan lebih
menonjolkan sikap pragmatis serta materialistis. Banyak generasi muda mengikuti
tren media sosial tanpa mempertimbangkan dampak moralnya. Sebagai contoh, beberapa
peserta didik terlibat dalam perilaku negatif seperti perundungan siber atau
penyebaran informasi yang tidak benar di dunia maya. Hal ini menunjukkan bahwa
tanpa pendidikan akhlak yang memadai, kemajuan teknologi dapat berkontribusi
pada krisis moral yang serius (Utomo, 2020).https://jateng.nu.or.id/opini/krisis-moral-dan-teknologi-tanpa-kendali-penyebab-maraknya-kekerasan-seksual-Objkx
Pendidikan akhlak di era digital menjadi semakin penting
mengingat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan teknologi
yang tidak bertanggung jawab. Pendidikan akhlak tidak hanya bertujuan untuk
membentuk individu yang berkarakter baik, tetapi juga untuk membangun
masyarakat yang beradab dan bermartabat. Dalam perspektif Islam, pendidikan
akhlak memiliki peran utama dalam meraih keberkahan ilmu serta kehidupan yang
lebih bermakna. Salah satu referensi utama dalam memahami pentingnya etika
dalam menuntut ilmu adalah kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji,
yang relevan dalam menghadapi ta
Kurangnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan
teknologi oleh anak-anak menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap
penurunan moral generasi muda. Banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami
bagaimana teknologi dapat memengaruhi perilaku anak mereka. Padahal, bimbingan
dari orang tua sangat diperlukan agar anak-anak dapat memanfaatkan teknologi
secara bijak dan tetap berpegang pada nilai-nilai akhlak. Oleh karena itu,
sinergi antara orang tua dan pendidik sangat penting untuk memastikan bahwa
peserta didik tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki
karakter yang kuat (Mawardi & Al-Hamat, 2020).
Dengan demikian, diperlukan pendekatan pendidikan yang komprehensif dengan menggabungkan nilai-nilai akhlak dalam penggunaan teknologi. Pendidikan yang berbasis akhlak dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan moral di era digital sekaligus menjadikan teknologi sebagai alat untuk membentuk karakter peserta didik. Melalui pendekatan ini, generasi muda tidak hanya terampil dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial yang tinggi (Nasrul Hs, 2015). https://scholar.google.co.id/scholar?cites=1539047608664754566&as_sdt=2005&sciodt=0,5&hl=en
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah
memberikan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu
perubahan yang paling terlihat adalah dalam cara berkomunikasi. Jika dahulu
komunikasi jarak jauh hanya dapat dilakukan melalui surat atau telepon rumah,
kini dengan adanya smartphone dan aplikasi pesan instan, interaksi dapat
berlangsung secara langsung dengan siapa saja di berbagai belahan dunia
(Sriyono & Mardiyati, 2024). Perkembangan ini tidak hanya mempermudah pertukaran
informasi, tetapi juga mempercepat proses pengambilan keputusan dalam berbagai
aspek kehidupan, baik dalam ranah pribadi maupun profesional.
Selain itu, TIK turut mengubah pola kerja. Banyak tugas
yang sebelumnya dikerjakan secara manual kini telah beralih ke sistem otomatis,
sehingga meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Sebagai contoh, pemanfaatan
perangkat lunak manajemen proyek memungkinkan tim bekerja sama dengan efektif
meskipun berada di lokasi yang berbeda (Agust, 2024). Dengan adanya teknologi
ini, sistem kerja jarak jauh semakin umum diterapkan di berbagai industri,
memberikan fleksibilitas lebih bagi para pekerja.
Dalam dunia pendidikan, dampak teknologi juga sangat
signifikan. Kehadiran pembelajaran daring serta sumber belajar digital seperti
e-book dan video edukasi membuat pendidikan semakin mudah diakses (Wahyuni,
2023). Siswa kini dapat belajar kapan saja dan di mana saja, serta memperoleh
materi yang sebelumnya sulit dijangkau. Hal ini tidak hanya memperluas peluang
pendidikan, tetapi juga memungkinkan pendekatan pembelajaran yang lebih
personal dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Namun, di balik berbagai manfaatnya, perkembangan TIK juga
menghadirkan tantangan baru. Masalah privasi dan keamanan data menjadi semakin
krusial seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi dalam kehidupan
sehari-hari (Sriyono & Mardiyati, 2024). Ancaman serangan siber dan
kebocoran data pribadi menjadi risiko yang harus dihadapi baik oleh individu
maupun organisasi. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran akan pentingnya
keamanan digital serta perlindungan terhadap informasi pribadi menjadi hal yang
sangat diperlukan.
PENTINGNYA PENDIDIKAN AKHLAK DI ERA DIGITAL
KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK
Pendidikan akhlak adalah proses pembelajaran yang
bertujuan untuk membentuk karakter dan perilaku individu dengan menanamkan
nilai-nilai moral yang positif. Nilai-nilai tersebut meliputi kejujuran,
tanggung jawab, empati, serta rasa hormat terhadap orang lain (Putri Najah Nabila,
2023). Dalam pendidikan akhlak, penting bagi individu untuk memahami bahwa
setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi
lingkungan sekitarnya. Dengan pemahaman tersebut, mereka akan lebih mampu
mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pendidikan akhlak juga menekankan
pentingnya hubungan sosial yang baik. Hal ini mencakup sikap saling menghormati
dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat (Nurwidi & Anwar, 2017).
Di era digital, di mana interaksi sering kali terjadi melalui platform daring,
nilai-nilai moral menjadi semakin penting. Anak-anak dan remaja perlu dibimbing
agar dapat berperilaku sopan dan menghargai orang lain dalam komunikasi di
dunia maya sehingga tercipta lingkungan digital yang sehat.
Pendidikan akhlak juga berperan sebagai fondasi dalam membangun karakter yang kuat. Anak-anak yang sejak dini dibiasakan dengan nilai-nilai moral cenderung tumbuh menjadi individu yang lebih bertanggung jawab dan memiliki integritas tinggi (Freiheit Foundation, 2024). Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan dan mampu berkontribusi secara positif bagi masyarakat.https://scholar.google.co.id/scholarcites
Lebih dari itu, pendidikan akhlak tidak hanya berfokus pada perkembangan individu tetapi juga pada pembentukan masyarakat yang harmonis. Ketika setiap individu memiliki akhlak yang baik, hubungan sosial menjadi lebih baik, potensi konflik dapat dikurangi, dan kerja sama antaranggota masyarakat semakin meningkat (Putri Najah Nabila, 2023). Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum di semua jenjang pendidikan.
Pendidikan akhlak memiliki peran penting dalam membentuk karakter seseorang. Proses ini membekali anak-anak dengan pemahaman tentang nilai-nilai moral yang menjadi pedoman dalam kehidupan mereka (Nurwidi & Anwar, 2017). Pendidikan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Misalnya, melalui kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat, anak-anak dapat belajar tentang pentingnya empati serta tanggung jawab sosial.
Dalam perkembangan remaja, pendidikan akhlak berperan
dalam membantu mereka menghadapi berbagai tantangan sosial. Remaja kerap
terpapar berbagai pengaruh negatif dari lingkungan, termasuk dari media sosial
(Putri Najah Nabila, 2023). Dengan memiliki pemahaman moral yang kuat, mereka
akan lebih mampu menghindari perilaku menyimpang serta tetap berpegang teguh
pada prinsip-prinsip yang telah diajarkan kepada mereka.
Selain itu, pendidikan akhlak juga berkontribusi dalam
membentuk identitas diri. Siswa yang memiliki pemahaman kuat tentang
nilai-nilai moral akan lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi dan
lebih bijak dalam mengambil keputusan (Freiheit Foundation, 2024). Mereka akan
memiliki tujuan hidup yang jelas dan tetap berpegang teguh pada prinsip moral
meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan.
Dengan demikian, pendidikan akhlak bukan hanya penting
bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Ketika generasi
muda dibekali dengan pendidikan akhlak yang baik, mereka akan tumbuh menjadi
pemimpin masa depan yang bertanggung jawab dan memiliki integritas tinggi
(Putri Najah Nabila, 2023). Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu
memberikan perhatian lebih dalam mengembangkan kurikulum pendidikan akhlak
untuk memastikan generasi mendatang memiliki karakter yang kuat dan berkontribusi
positif bagi masyarakat.
HUBUNGAN ANTARA AKHLAK DAN TEKNOLOGI
Dalam era digital, penerapan etika dalam penggunaan teknologi menjadi hal yang sangat penting. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membawa banyak manfaat, tetapi jika tidak digunakan dengan bijaksana, dapat berdampak negatif (DLA, 2023). Oleh karena itu, setiap individu harus memahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan di dunia maya dapat memiliki konsekuensi jangka panjang, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, pengajaran mengenai etika digital perlu menjadi bagian dari pendidikan akhlak
Salah satu aspek utama dari etika digital adalah
perlindungan data pribadi. Pengguna teknologi harus menyadari pentingnya
menjaga informasi pribadi mereka dan menghormati privasi orang lain (DLA,
2023). Contohnya, penggunaan kata sandi yang kuat serta tidak membagikan
informasi sensitif tanpa izin merupakan langkah-langkah dasar dalam menjaga
keamanan data.
Selain itu, penyebaran informasi secara bertanggung jawab
juga merupakan bagian penting dari etika digital. Mengingat berita palsu dapat
dengan cepat menyebar melalui media sosial, pengguna perlu memverifikasi
kebenaran informasi sebelum membagikannya (DLA, 2023). Oleh karena itu,
pendidikan akhlak harus mengajarkan keterampilan berpikir kritis serta tanggung
jawab sosial dalam berinteraksi di dunia digital.
Etika dalam penggunaan teknologi juga berperan dalam
menciptakan lingkungan digital yang positif (DLA, 2023). Ketika pengguna
menerapkan nilai-nilai etika dalam interaksi daring mereka, dunia maya akan
menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman bagi semua pihak. Oleh karena itu,
penting bagi lembaga pendidikan untuk mengintegrasikan pembelajaran mengenai
etika digital ke dalam kurikulum mereka.
Tanggung jawab sosial dalam dunia digital juga merupakan
bagian dari hubungan antara akhlak dan teknologi. Dalam interaksi daring,
pengguna tidak hanya bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, tetapi
juga terhadap dampaknya terhadap komunitas digital secara keseluruhan (Freiheit
Foundation, 2024). Ini mencakup sikap menghormati pendapat orang lain meskipun
berbeda serta menghindari tindakan negatif seperti perundungan siber atau
penyebaran informasi yang tidak benar.
Setiap unggahan atau komentar di media sosial dapat
memberikan dampak bagi orang lain. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk
selalu bersikap sopan dan menggunakan bahasa yang baik saat berinteraksi di
dunia maya (DLA, 2023). Sikap ini akan menciptakan lingkungan digital yang
lebih sehat dan kondusif bagi semua pengguna.
Selain itu, tanggung jawab sosial juga dapat diwujudkan
dengan mendukung inisiatif positif di dunia digital. Pengguna dapat
berkontribusi dengan menyebarkan informasi edukatif atau mendukung kampanye
sosial yang bermanfaat bagi masyarakat (Freiheit Foundation, 2024). Dengan cara
ini, teknologi tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi tetapi juga
sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran sosial dan membangun budaya digital
yang lebih baik.
Kesadaran akan tanggung jawab sosial di dunia maya perlu
ditanamkan sejak dini melalui pendidikan akhlak. Anak-anak dan remaja harus
memahami bahwa tindakan mereka di dunia digital memiliki konsekuensi nyata,
sehingga mereka dapat menjadi pengguna teknologi yang lebih bertanggung jawab
(Putri Najah Nabila, 2023). Dengan demikian, generasi muda dapat tumbuh menjadi
individu yang tidak hanya cakap dalam teknologi tetapi juga memiliki kepedulian
sosial yang tinggi.
STRATEGI IMPLEMENTASI REVOLUSI DIGITAL BERBASIS AKHLAK
Mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam sistem pendidikan
merupakan langkah penting untuk membentuk karakter siswa di era digital. Dalam
hal ini, nilai-nilai moral perlu diselaraskan dengan pembelajaran teknologi
agar siswa tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga memiliki kesadaran
etika dalam penggunaannya (Muslem et al., 2024). Sebagai contoh, dalam
pembelajaran tentang media sosial, siswa dapat diajarkan mengenai bahaya
penyebaran hoaks serta pentingnya menjaga privasi dan etika dalam berkomunikasi
secara daring.
Pendidikan yang menggabungkan akhlak dalam pembelajaran
teknologi juga membantu siswa memahami tanggung jawab mereka sebagai pengguna
digital. Dengan menyadari konsekuensi dari tindakan mereka di dunia maya, siswa
akan lebih bijaksana dalam berinteraksi secara daring (Hidayati, 2021). Oleh
sebab itu, pendidikan tentang etika digital harus menjadi bagian dari mata
pelajaran yang berkaitan dengan teknologi.
Selain itu, pengembangan modul pembelajaran yang
mengandung nilai-nilai akhlak juga sangat diperlukan. Modul ini dapat berisi
studi kasus nyata yang menunjukkan dampak dari perilaku tidak etis di dunia
digital terhadap individu dan masyarakat (Rimayati, 2023). Dengan cara ini,
siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis
yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Integrasi nilai-nilai akhlak dalam kurikulum pendidikan
harus dilakukan secara menyeluruh. Artinya, pendidikan karakter tidak hanya
diajarkan dalam kelas, tetapi juga diterapkan dalam berbagai kegiatan sekolah,
termasuk kegiatan ekstrakurikuler (Muslem et al., 2024). Dengan pendekatan ini,
generasi muda diharapkan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya unggul dalam
akademik tetapi juga memiliki moral yang kuat.
Salah satu strategi efektif dalam penerapan revolusi
digital berbasis akhlak adalah pengembangan modul pembelajaran interaktif.
Modul ini dirancang agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan
relevan bagi siswa (Wahyuni & Kurniawan, 2022). Dengan memanfaatkan
teknologi seperti aplikasi pembelajaran digital atau platform e-learning, siswa
dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja.
Modul pembelajaran interaktif tidak hanya menyajikan
informasi secara pasif tetapi juga melibatkan siswa dalam aktivitas yang
mendorong pemikiran kritis dan diskusi tentang nilai-nilai akhlak (Hidayati,
2021). Sebagai contoh, melalui simulasi atau permainan peran, siswa dapat
menghadapi situasi yang melibatkan dilema moral dan belajar bagaimana mengambil
keputusan yang benar sesuai dengan nilai-nilai etika.
Selain itu, pengembangan modul pembelajaran juga harus
melibatkan kolaborasi antara guru, pakar pendidikan, dan ahli teknologi. Hal
ini bertujuan untuk memastikan bahwa materi yang disajikan tidak hanya bersifat
edukatif tetapi juga sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan siswa
saat ini (Rimayati, 2023). Dengan keterlibatan berbagai pihak, hasil
pembelajaran akan lebih komprehensif dan efektif dalam membentuk karakter
siswa.
Evaluasi terhadap efektivitas modul pembelajaran
interaktif juga harus dilakukan secara berkala. Dengan mengumpulkan umpan balik
dari siswa dan guru, modul dapat terus diperbarui agar tetap sesuai dengan
tantangan yang dihadapi dalam dunia digital (Muslem et al., 2024). Dengan
demikian, pengembangan modul pembelajaran berbasis akhlak akan memberikan kontribusi
nyata dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi tetapi
juga memiliki moralitas yang kuat.
Pelatihan Guru dan Tenaga Pendidik
1. Meningkatkan Pemahaman tentang Etika Digital
Pelatihan bagi guru dan tenaga pendidik berperan penting
dalam menerapkan revolusi digital yang berlandaskan nilai-nilai akhlak. Salah
satu aspek utama dalam pelatihan ini adalah meningkatkan pemahaman mengenai
etika digital (Telkom Edukasi Guru, 2024). Di era di mana informasi dapat
dengan mudah menyebar melalui internet, guru harus memiliki wawasan yang
memadai untuk mengajarkan siswa bagaimana bersikap etis di dunia maya.
Materi pelatihan mencakup berbagai aspek etika digital,
seperti menjaga privasi di dunia daring, memahami tanggung jawab sosial saat
menggunakan media sosial, serta mengenali dan menghindari penyebaran berita
bohong (Hadley & Sheingold, 2020). Dengan pemahaman yang baik mengenai hal
ini, guru dapat lebih efektif dalam membimbing siswa agar dapat menggunakan
teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Selain itu, pelatihan mengenai etika digital juga harus
mencakup strategi terbaik dalam mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam
proses pembelajaran. Guru perlu dibekali dengan metode pengajaran yang
inovatif, seperti diskusi kelompok dan studi kasus yang relevan dengan situasi
nyata (Rahman, 2020). Dengan pendekatan ini, siswa dapat lebih mudah memahami
dan menerapkan prinsip-prinsip etika dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasi pelatihan juga menjadi langkah penting untuk
memastikan efektivitasnya. Melalui umpan balik dari para peserta serta analisis
hasil belajar siswa setelah pelatihan berlangsung, institusi pendidikan dapat
terus mengembangkan program pelatihan agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman
(Telkom Edukasi Guru, 2024).
2. Metode Pengajaran yang Efektif untuk Menanamkan
Nilai-Nilai Moral
Metode pengajaran yang tepat sangat diperlukan untuk
menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa dalam era digital. Salah satu metode
yang bisa diterapkan adalah diskusi kelas, yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengemukakan pandangan mereka mengenai berbagai isu moral
(Hidayati, 2021). Selain meningkatkan keterlibatan siswa, metode ini juga
memungkinkan mereka untuk memahami sudut pandang yang berbeda.
Penggunaan studi kasus juga menjadi alat pengajaran yang
efektif. Dengan menganalisis contoh nyata yang melibatkan dilema moral, siswa
dapat menelaah berbagai pilihan dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan
yang diambil (Rahman, 2020). Metode ini membantu mereka mengembangkan
keterampilan berpikir kritis serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan
nilai-nilai etika.
Selain itu, proyek kelompok dapat digunakan untuk
memperkuat pembelajaran tentang moralitas. Dengan bekerja dalam tim untuk
menyelesaikan tugas tertentu, siswa belajar tentang pentingnya kerja sama serta
tanggung jawab sosial (Wahyuni & Kurniawan, 2022). Metode ini tidak hanya
meningkatkan keterampilan sosial mereka, tetapi juga membantu menumbuhkan
empati.
Penting bagi guru untuk terus mengeksplorasi dan
menerapkan metode pengajaran yang inovatif agar pembelajaran tetap menarik dan
efektif. Dengan pembaruan metode yang disesuaikan dengan perkembangan zaman,
pemahaman siswa tentang nilai-nilai moral akan semakin kuat (Hadley &
Sheingold, 2020). Dengan demikian, metode pengajaran yang tepat akan
berkontribusi dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlak baik di era
digital.
Contoh Praktik Baik dalam Pendidikan Berbasis Akhlak
A. Proyek Kolaboratif antara Sekolah dan Komunitas
Salah satu strategi yang efektif dalam pendidikan berbasis
akhlak adalah kerja sama antara sekolah dan komunitas. Melalui kolaborasi ini,
siswa tidak hanya belajar secara teori di dalam kelas, tetapi juga menerapkan
nilai-nilai moral dalam kehidupan nyata. Kegiatan seperti bakti sosial,
mengajar anak-anak di lingkungan sekitar, atau proyek lingkungan hidup dapat
menjadi contoh konkret dari upaya ini. Berdasarkan penelitian oleh Siregar et
al. (2018), keterlibatan siswa dalam proyek semacam ini dapat meningkatkan
empati dan rasa tanggung jawab sosial mereka.
Selain itu, kerja sama ini memberi kesempatan bagi guru
untuk menanamkan nilai-nilai akhlak melalui pengalaman langsung. Dalam konteks
ini, guru berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan siswa dalam memahami
pentingnya kontribusi mereka terhadap masyarakat. Hal ini sejalan dengan
pandangan Yahiji & Damhuri (2018), yang menyatakan bahwa pengalaman praktis
di luar kelas dapat memperkaya pemahaman siswa mengenai moralitas.
Partisipasi komunitas juga membantu memperkuat hubungan
antara sekolah dan masyarakat. Dengan melibatkan orang tua serta anggota
komunitas lainnya, proyek kolaboratif ini menciptakan sinergi yang positif.
Sebagai contoh, SMA Negeri 15 Semarang di Jawa Tengah telah berhasil
melaksanakan program "Orangtua Mengajar," yang melibatkan orang tua
dalam proses pembelajaran anak-anak mereka (Jendela Kemdikbud, 2024). Program
ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis akhlak bukan hanya tanggung jawab
sekolah, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Akhirnya, proyek kolaboratif ini dapat menjadi model bagi
sekolah lain untuk menerapkan pendekatan serupa dalam pendidikan akhlak. Dengan
berbagi pengalaman dan hasil dari proyek tersebut, sekolah-sekolah dapat saling
belajar dan mengembangkan metode yang lebih efektif dalam membentuk karakter
siswa. Hal ini menjadi sangat penting mengingat tantangan moral yang semakin
kompleks di era digital.
B. Pemanfaatan Platform Digital untuk Pembelajaran Akhlak
Di era digital saat ini, pemanfaatan platform digital
dalam pembelajaran akhlak menjadi semakin relevan. Teknologi informasi
menyediakan berbagai alat yang dapat mendukung penyampaian materi akhlak secara
lebih menarik dan interaktif. Misalnya, aplikasi pembelajaran, video edukatif,
serta forum diskusi daring dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa
mengenai nilai-nilai moral. Menurut penelitian Abidin (2019), penggunaan media
digital dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, terutama jika
dikombinasikan dengan metode pengajaran konvensional.
Platform digital juga memungkinkan siswa untuk belajar
secara fleksibel dan mandiri. Mereka dapat mengakses materi kapan pun dan di
mana pun, sehingga meningkatkan motivasi mereka dalam mempelajari nilai-nilai
akhlak. Contohnya, banyak sekolah kini memanfaatkan aplikasi seperti Google
Classroom atau Edmodo untuk membagikan materi dan tugas terkait akhlak kepada
siswa (Nurjanah et al., 2020). Pendekatan ini tidak hanya memudahkan akses
pembelajaran tetapi juga mendorong siswa untuk lebih aktif dalam berdiskusi.
Namun, tantangan tetap ada dalam penerapan teknologi
digital untuk pembelajaran akhlak, terutama dalam mengawasi konten yang diakses
siswa. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk memberikan arahan yang
jelas agar siswa dapat menggunakan platform digital secara bertanggung jawab.
Menurut Setiawan & Kurniawanto (2016), pendidik perlu mengajarkan siswa cara
memilih informasi yang akurat serta bagaimana menerapkan nilai-nilai etika
dalam interaksi digital.
Secara keseluruhan, pemanfaatan platform digital dalam
pembelajaran akhlak memiliki potensi besar dalam mendukung pendidikan karakter.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat yang efektif dalam
membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga
memiliki integritas moral yang tinggi. Hal ini sangat penting dalam
mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan dengan sikap yang baik dan
penuh tanggung jawab.
Kesimpulan dan Rekomendasi
A. kesimpulan
Pendidikan berbasis akhlak memiliki peranan penting dalam
membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga
memiliki integritas moral yang tinggi. Dalam konteks ini, pendidikan akhlak
tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada
pengembangan adab dan perilaku yang baik. Menurut Burhanuddin Az-Zarnuji,
pendidikan akhlak mencakup tiga aspek utama: akhlak terhadap Allah, akhlak
terhadap manusia, dan akhlak terhadap lingkungan (Himah Sohibah, 2021). Hal ini
menunjukkan bahwa pendidikan akhlak harus terintegrasi dalam semua aspek
pembelajaran di sekolah.
Dalam pelaksanaannya, pendidikan akhlak dapat dilakukan
melalui berbagai metode, termasuk pengajaran langsung di kelas, proyek
kolaboratif dengan komunitas, dan penggunaan teknologi digital. Metode-metode
ini memungkinkan siswa untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai akhlak
dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian oleh Irfani (2020) menegaskan bahwa
karakter yang baik akan terbentuk jika pendidikan moral diterapkan sejak dini,
sehingga penting untuk mengintegrasikan pendidikan akhlak dalam kurikulum
sekolah.
Selain itu, pentingnya keterlibatan orang tua dan
masyarakat dalam pendidikan akhlak juga perlu ditekankan. Keterlibatan ini
dapat memperkuat nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dan menciptakan
lingkungan yang mendukung perkembangan karakter siswa. Dalam hal ini,
program-program seperti "Orangtua Mengajar" menjadi contoh nyata
bagaimana kolaborasi antara sekolah dan orang tua dapat meningkatkan pemahaman
siswa tentang akhlak (Jendela Kemdikbud, 2024).
Secara keseluruhan, pendidikan berbasis akhlak merupakan
fondasi yang kuat untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas tetapi
juga beretika. Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan akhlak dapat memberikan
kontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter siswa yang baik dan
bertanggung jawab di masa depan.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, terdapat beberapa
rekomendasi bagi stakeholder pendidikan untuk meningkatkan efektivitas
pendidikan berbasis akhlak. Pertama, pemerintah perlu memperkuat kebijakan
pendidikan yang mendukung integrasi nilai-nilai akhlak dalam kurikulum
nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan menyusun pedoman yang jelas mengenai
materi ajar dan metode pengajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan
akhlak. Abdul Majid et al. (2011) menekankan bahwa kebijakan pendidikan harus
mencerminkan tujuan nasional untuk membentuk individu beriman dan bertakwa.
Kedua, lembaga pendidikan harus mengembangkan program
pelatihan bagi guru agar mereka lebih siap dalam mengajarkan nilai-nilai akhlak
kepada siswa. Pelatihan ini bisa meliputi teknik pengajaran interaktif serta
cara-cara mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam setiap mata pelajaran.
Menurut penelitian oleh Setiawan & Kurniawanto (2016), guru yang terlatih
akan lebih efektif dalam menyampaikan materi pendidikan karakter kepada siswa.
Ketiga, perlu adanya kolaborasi antara sekolah dengan
orang tua dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung
pembelajaran akhlak. Program-program seperti workshop atau seminar bagi orang
tua tentang pentingnya pendidikan akhlak dapat membantu mereka memahami peran
mereka dalam mendukung perkembangan karakter anak-anak mereka. Keterlibatan
aktif orang tua dapat memperkuat nilai-nilai yang diajarkan di sekolah (Yahiji
& Damhuri, 2018).
Akhirnya, evaluasi berkala terhadap implementasi
pendidikan berbasis akhlak sangat diperlukan untuk menilai efektivitas program
tersebut. Stakeholder harus melakukan survei dan penelitian untuk mendapatkan umpan
balik dari siswa, guru, dan orang tua mengenai dampak dari pendidikan akhlak
yang diterapkan. Dengan demikian, langkah-langkah perbaikan dapat dilakukan
secara berkelanjutan untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, 2019. "Penggunaan Media Digital dalam Pembelajaran."
Bandung: Penerbit Deepublish.
Agust (2024). Pengaruh dan Efek Teknologi Komunikasi dan Informasi di Era
Modern. Surabaya: UNTAG.
Endranul Aliyah & Noor Amirudin. "Konsep Pendidikan Akhlak Dalam
Kitab Ta’lim Muta’allim Karangan Imam Az-Zarnuji," TAMADDUN: Jurnal
Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan, 2020.
Freiheit Foundation (2024). Tantangan Kebebasan Berpendapat di Era
Digital: Hoaks dan Ujaran Kebencian. Jakarta: Freiheit Foundation.
Hadley & Sheingold (2020). Etika Digital: Pengaruh Teknologi Terhadap
Pendidikan. Jakarta: Penerbit XYZ.
Hidayati (2021). Strategi Pembentukan Karakter di Era Digital di Madrasah.
Makassar: Jurnal Studi Pendidikan.
Jendela Kemdikbud, 2024. "Praktik Baik Pendidikan Karakter dari
Sekolah." Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Mawardi & Al-Hamat. "Pembinaan Akhlak," Jurnal Pendidikan,
2020.
Muslem et al. (2024). Integrasi Pendidikan Akhlak Dalam Kurikulum
Pendidikan Tinggi Islam Di Era Digital. Banda Aceh: Universitas Islam Negeri
Ar-Raniry.
Nasrul Hs. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2015.
Nurjanah et al., 2020. "Pembelajaran Akhlak Berbasis Teknologi."
Semarang: Penerbit Deepublish.
Putri (2023). Krisis Moral Generasi Muda di Era Digital: Tantangan dan
Solusi. Jakarta: Kominfo.
Rahman (2020). Guru dan Pendidikan Karakter: Menanamkan Nilai-Nilai Moral
dan Etika pada Siswa. Jakarta: Jurnal Pendidikan Karakter.
Rahmaniah (2024). Membangun Etika Komunikasi Digital pada Generasi Muda:
Pendekatan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemenkumham RI..
Rimayati (2023). Pengembangan Modul Pembelajaran Interaktif Berbasis
Akhlak. Jakarta: Jurnal Pendidikan.
Setiawan & Kurniawanto, 2016. "Pendidikan Karakter Melalui
Teknologi." Surabaya: Penerbit Deepublish.
Siregar et al., 2018. "Strategi Pendidikan Akhlak." Yogyakarta:
Penerbit Deepublish.
Sriyono & Mardiyati (2024). Dampak Penggunaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi Terhadap Kehidupan Sosial. Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI.
Telkom Edukasi Guru (2024). Edukasi Guru Tentang Ancaman Siber dan Etika
Digital di Lingkungan Sekolah. Makassar: Yayasan Pendidikan Telkom.
Utomo. "Teori Pendidikan Az-Zarnuji dan Eksistensinya di Era
Digital," TAMADDUN: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan, 2020.
Wahyuni (2023). Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya pada Sistem
Pendidikan. Jakarta: Politeknik Pratama.
Comments
Post a Comment